Product Testing
|
Test Bed |
|
| Processor | Intel Core Ultra 9 285K |
| Motherboard | Gigabyte Z890 Aorus Master |
| Graphic Card | RTX 3060 12GB |
| Storage | NVMe 128GB |
| Power Supply | NZXT C1200 |
| Cooler | ID-Cooling DX360 Max |
| Memory | G.Skill Trident Z5 8000 32GB |
| Operating System | Windows 11 Pro |
Pada pengujian kali ini, kami menggunakan 2 profile yang tersedia pada BIOS Z890 AORUS Master, yaitu Intel Default Settings – Performance dan Intel Default Settings – Extreme. Khusus profile Intel Default Settings – Extreme, kami menyalakan fitur XMP (DDR5 8000 MT/s C38) pada memory kami, sedangkan khusus profile Intel Default Settings – Performance kami membiarkan memory kami berjalan pada kondisi JEDEC. Jika kami perhatikan, profile Intel Default Settings-Performance melakukan konfigurasi terhadap Power Limit 1 dan 2 ke angka 250W/250W, sedangkan untuk Intel Default Settings – Extreme tercatat Power Limit 1 dan 2 di angka 250W/295W. Dua profile di atas, kami rasa cukup bagi sebagian besar user untuk dapat memaksimalkan performa dari CPU Core Ultra 9 285K tanpa harus menjumpai kendala seperti suhu CPU yang terlalu panas yang dikarenakan oleh voltase berlebih dan berpotensi menyebabkan ketidakstabilan sistem.




Kami menjalankan beberapa kategori benchmark, seperti CPU Rendering (Cinebench R23 & V-Ray) , File Compression & Decompression (7-Zip), Productivity (Handbrake & Audacity OpenVINO), berikut hasil pengujian yang dihasilkan oleh Z890 AORUS Master
*) CINEBENCH R23 – Multi Core

*) CINEBENCH R23 – Single Core

*) V-Ray Benchmark – Vsamples

*) 7-Zip – Total Score

*) Handbrake – 4K to 1080p Fast Preset

*) Audacity OpenVINO – 6.30 Minutes MP3 Track Separation

Berdasar hasil pengujian di atas, dapat disimpulkan jika user menggunakan profile Intel Default Settings – Extreme dan mengaktifkan XMP Memory pada BIOS, user bisa mendapatkan benefit performa ekstra dari CPU Core Ultra 200 series tanpa harus melakukan tuning manual pada BIOS, bicara soal temperatur CPU Intel Core Ultra 9 285K kami mencatatkan suhu terpanas di angka 80 derajat celcius (suhu ruangan berkisar antara 28-30 derajat celcius) ketika menjalankan rendering benchmark seperti Cinebench R23 dan Handbrake. Terlihat bahwa suhu operasional CPU Intel Core Ultra 200 Series lebih “ramah” dibandingkan CPU Intel Core i Generasi 14 (Raptor Lake).
Pada pengujian berikutnya kami akan mencoba fitur-fitur dari GIGABYTE yang berhubungan dengan memory optimization, fitur-fitur ini disebut dengan “High Bandwidth” dan “Low Latency”, dari penamaannya saja user dapat menerka-nerka kalau kedua fitur ini erat kaitannya dengan optimalisasi bandwidth dan latency pada memory, apa benar fitur ini juga dapat memberikan performa ekstra? Berikut hasil pengujian menggunakan memory G.Skill Trident Z5 8000 C38 32 GB kit:


*) AIDA64 Memory Benchmark

*) Audacity OpenVINO – 6.30 Minutes MP3 Track Separation

Another extra perfomance gain! Ya, fitur High Bandwidth & Low Latency yang ada pada BIOS bukan sebuah gimmick belaka, kenaikan bandwidth Read, Copy dan Write tercatat pada benchmark AIDA64 begitu juga dengan penurunan Latency walaupun penurunannya tidak begitu masif. Benchmark productivity seperti Audacity OpenVINO pun dapat memanfaatkan improvement pada sisi memory dan berhasil membuat track separation menjadi 2 detik lebih cepat. Terlihat GIGABYTE melakukan tuning beberapa parameter timing/subtiming yang menyebabkan kenaikan pada sisi bandwidth serta penurunan pada sisi latency memory.
Closing Tought


Hadirnya platform Intel Z890 beserta dengan Intel Core Ultra 200 Series, membuat vendor motherboard berlomba-lomba membuat motherboard berbasis chipset Intel Z890, Z890 AORUS Master sebagai salah satu lini atas dari AORUS tampak siap menjadi tandem Intel Core Ultra 200 Series, dilengkapi dengan VRM yang berkualitas, opsi storage dan konektivitas yang melimpah, dukungan terhadap high memory speed DDR5 up to 9600 MT/s, disertai build quality yang apik disertai & desain yang menurut kami sangat “Classy”. Satu hal yang kami sebenarnya harap ada pada motherboard ini adalah fitur Dual BIOS, sayangnya GIGABYTE hanya menyematkan satu BIOS pada motherboard ini. Bicara soal performa, user dapat memanfaatkan fitur-fitur pada BIOS seperti Intel Default Settings – Extreme dan mengaktifkan profile XMP untuk mendapatkan performa ekstra tanpa harus melakukan tuning manual pada BIOS yang berpotensi menyebabkan ketidak-stabilan pada sistem, user juga bisa memanfaatkan fitur High Bandwidth & Low Latency pada BIOS untuk mengoptimalkan bandwidth dan latency memory agar dapat mendapatkan “bonus” performa dari Z890 AORUS Master.

Thanks to:
GIGABYTE Indonesia
Alva “Lucky_n00b” Jonathan
