Product Testing
|
Test Bed |
|
| Processor | Intel Core Ultra 7 265K |
| Motherboard | ASUS ROG Maximus Z890 Apex |
| Graphic Card | NVidia GTX 1030 |
| Storage | NVMe 128GB |
| Power Supply | NZXT C1200 |
| Cooling | Montech HyperFlow RGB 360 |
| Operating System | Windows 11 64-Bit |
| Benchmark | AIDA64, Handbrake, 7-Zip, V-Ray. Audacity |
Metode pengujian yang kami gunakan adalah mencoba melakukan benchmark pada kondisi Default (JEDEC) dan load profile XMP (6000MT/s CL36) pada memory kit ini, motherboard yang kami gunakan adalah ASUS ROG Maximus Z890 Apex untuk menguji serta melakukan memory tuning & overclocking. Tidak ada parameter apapun pada BIOS yang kami ubah, melainkan hanya XMP pada saat pengujian ini.



AIDA64 Memory Benchmark

Pada benchmark yang terkenal dengan fungsinya sebagai “alat ukur” bandwidth memory ini, terlihat perbedaan signifikan antara kondisi Default (JEDEC) dan kondisi XMP dalam keadaan aktif, perbedaan bahkan mencapai kisaran 16.000 MB/s- 17.000 MB/s pada pengujian Read dan Write.
V-Ray Benchmark

Sedangkan pada benchmark simulasi rendering, mode XMP memberikan perbedaan hingga lebih dari 1500 points dibanding kondisi Default.
Handbrake (4K to 1080p)

Pengujian encode video 4K to 1080p melalui software Handbrake juga memberikan perbedaan sekitar 7 detik lebih cepat ketika XMP dalam keadaan aktif.
7-Zip Benchmark

Selanjutnya pada benchmark 7-Zip dilakukan pengujian proses Compressing dan Decompressing file, lagi-lagi mode XMP memberikan benefit ekstra dan signifikan dalam benchmark ini dibanding keadaan default terutama pada saat pengujian Compressing.

Pada software productivity seperti Audacity – OpenVINO, catatan waktu 3 detik lebih cepat berhasil dicapai dengan kondisi XMP dibandingkan dengan kondisi Default/JEDEC pada saat melakukan track separation pada sebuah file MP3 berdurasi 6.5 menit.
